Air putih sering dianggap sebagai minuman yang tidak memiliki rasa. Namun, siapa pun yang pernah membandingkan air sumur, air keran, air mineral, dan air hasil penyaringan mungkin menyadari bahwa semuanya tidak selalu terasa sama.
Ada air yang terasa segar, sedikit manis, getir, asin, pahit, bahkan meninggalkan sensasi seperti logam di lidah.
Fenomena ini juga cukup sering menjadi bahan pencarian di internet. Pertanyaan seperti “kenapa air putih terasa pahit?”, “mengapa air sumur terasa asin?” atau “kenapa air minum terasa seperti besi?” muncul ketika seseorang menyadari adanya perubahan rasa yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan.
Lantas, apa sebenarnya penyebab air memiliki rasa?
Air Tidak Selalu Benar-Benar Tawar
Secara alami, air dapat mengandung berbagai zat terlarut. Ketika air bergerak melalui tanah, batuan, atau lapisan geologi tertentu, sejumlah mineral dan senyawa dapat ikut larut ke dalamnya.
Kandungan inilah yang antara lain dapat memengaruhi karakter rasa air.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa rasa, bau, dan tampilan merupakan bagian dari aspek penerimaan kualitas air. Perubahan rasa juga dapat menjadi tanda adanya perubahan pada sumber air atau proses pengolahan yang perlu diperhatikan.
Artinya, rasa air bukan sekadar persoalan apakah air tersebut “enak” atau “tidak enak”. Perubahan rasa yang tidak biasa dapat menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu yang berubah pada air.
1. Mineral Terlarut Bisa Membuat Air Terasa Berbeda
Salah satu penyebab paling umum adalah mineral yang secara alami terdapat di dalam air.
Air tanah, misalnya, dapat bersentuhan dengan berbagai jenis batuan dalam waktu yang lama. Proses tersebut memungkinkan mineral tertentu larut dan terbawa bersama air.
Kalsium dan magnesium dapat memberikan karakter rasa tertentu. Sementara itu, kandungan mineral lain dapat menghasilkan sensasi yang berbeda pada lidah.
Inilah salah satu alasan mengapa air dari dua sumber berbeda dapat memiliki rasa yang tidak sama meskipun sama-sama terlihat jernih.
Perbedaan komposisi mineral juga menjadi salah satu alasan mengapa air mineral dari sumber berbeda dapat memiliki karakter rasa yang berbeda.
2. Kandungan Garam Dapat Membuat Air Terasa Asin
Jika air terasa asin, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan garam atau ion tertentu yang terlarut di dalamnya.
Kondisi ini dapat terjadi secara alami, terutama pada wilayah yang memiliki pengaruh air laut atau karakteristik geologi tertentu. Air tanah di kawasan pesisir, misalnya, dapat mengalami peningkatan salinitas apabila terjadi intrusi air laut.
Air dengan kandungan garam yang lebih tinggi tentu dapat memiliki rasa yang berbeda dibandingkan air tawar biasa.
Karena itu, perubahan rasa menjadi lebih asin, terutama jika terjadi secara tiba-tiba, sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai persoalan sepele.
3. Besi dan Mangan Bisa Menimbulkan Sensasi Logam
Pernah minum air yang terasa seperti besi?
Sensasi tersebut dapat berkaitan dengan kandungan zat tertentu, termasuk besi atau mangan.
Air tanah yang melewati lapisan batuan tertentu dapat membawa mineral tersebut. Dalam kondisi tertentu, kandungan besi juga dapat menyebabkan perubahan warna atau meninggalkan noda pada peralatan rumah tangga.
Karena itu, air yang terasa seperti logam dan disertai perubahan warna sebaiknya diperiksa lebih lanjut, terutama apabila kondisi tersebut baru muncul.
4. Proses Pengolahan Air Juga Bisa Memengaruhi Rasa
Rasa air tidak hanya ditentukan oleh sumbernya.
Proses pengolahan juga dapat memengaruhi karakter rasa. Salah satu contohnya adalah penggunaan disinfektan dalam pengolahan air.
WHO mencatat bahwa rasa dan bau air dapat berasal dari bahan kimia alami, aktivitas biologis, proses pengolahan, produk samping pengolahan, maupun kontaminasi yang terjadi sepanjang perjalanan air dari sumber hingga keran.
Itulah sebabnya sebagian orang mungkin merasakan aroma atau rasa seperti kaporit pada air yang baru saja keluar dari keran.
Kondisi tersebut tidak otomatis berarti air berbahaya. Namun, perubahan rasa yang mencolok dari kondisi normal tetap layak diperhatikan.
5. Pipa dan Instalasi Rumah Bisa Berpengaruh
Air yang keluar dari sumber belum tentu memiliki karakter yang sama ketika sampai di gelas.
Air melewati pipa, tangki penyimpanan, keran, dan berbagai bagian instalasi sebelum akhirnya diminum. Jika sistem tersebut mengalami masalah, karakter air dapat berubah.
Korosi pada instalasi tertentu, misalnya, dapat memengaruhi rasa air. Begitu pula kondisi tangki penyimpanan yang kurang terawat.
Karena itu, ketika air terasa aneh hanya pada satu keran atau satu bagian rumah, sumber masalahnya belum tentu berasal dari air utama.
Periksa juga instalasi dan tempat penyimpanan air.
6. Suhu Air Dapat Mengubah Persepsi Rasa
Air yang sama bisa terasa berbeda ketika diminum dalam kondisi dingin dan ketika berada pada suhu ruang.
Suhu memengaruhi bagaimana manusia merasakan rasa dan aroma. WHO juga menyebutkan bahwa air yang lebih dingin umumnya lebih mudah diterima dibandingkan air yang lebih hangat, sementara suhu yang lebih tinggi dapat memperburuk persoalan rasa, bau, dan warna dalam kondisi tertentu.
Itulah sebabnya air dingin dari kulkas sering terasa lebih “segar”, meskipun kandungan airnya tidak berubah secara signifikan.
7. Wadah Penyimpanan Bisa Membuat Air Terasa Berbeda
Selain sumber air dan instalasi, wadah penyimpanan juga perlu diperhatikan.
Air yang terlalu lama disimpan dalam wadah tertentu dapat mengalami perubahan karakter rasa. Kondisi lingkungan seperti panas dan paparan sinar matahari juga dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Jika rasa aneh hanya muncul setelah air disimpan, cobalah membandingkan air yang sama dari sumber langsung dengan air yang sudah berada di wadah penyimpanan.
Perbandingan sederhana ini dapat membantu mencari sumber masalah.
Air Pahit, Asin, atau Terasa Logam, Apakah Selalu Berbahaya?
Tidak selalu.
WHO menjelaskan bahwa rasa dan bau yang tidak menyenangkan tidak otomatis menunjukkan adanya dampak kesehatan. Namun, perubahan rasa atau bau dari kondisi normal dapat menjadi tanda adanya perubahan pada sumber air atau masalah dalam proses pengolahan yang perlu diselidiki.
Di sisi lain, manusia tidak dapat memastikan keamanan air hanya dengan mencicipinya.
Air yang terlihat jernih dan tidak memiliki rasa aneh belum tentu bebas dari semua kontaminan. Sebaliknya, perubahan rasa juga tidak otomatis berarti air tersebut berbahaya.
Karena itu, pemeriksaan kualitas air tetap lebih dapat diandalkan daripada hanya mengandalkan indera.
Mengapa Rasa Air Bisa Berbeda antara Satu Daerah dan Daerah Lain?
Ini menjadi salah satu alasan mengapa seseorang bisa merasa “air di rumah baru rasanya beda”.
Komposisi air sangat dipengaruhi sumber dan lingkungan tempat air tersebut berada. Air permukaan, air tanah, dan air yang telah melalui berbagai tahap pengolahan dapat memiliki karakter yang berbeda.
Bahkan, kebiasaan masyarakat juga ikut memengaruhi persepsi.
WHO mencatat bahwa tingkat penerimaan terhadap rasa, bau, dan karakter air dapat berbeda berdasarkan kondisi lokal, kebiasaan masyarakat, serta faktor sosial dan budaya.
Jadi, air yang terasa normal bagi seseorang belum tentu memiliki karakter rasa yang sama bagi orang lain.
Kapan Perubahan Rasa Air Perlu Diperhatikan?
Perubahan rasa sebaiknya mendapat perhatian lebih jika:
- rasa air berubah secara tiba-tiba;
- air menjadi jauh lebih asin dari biasanya;
- muncul rasa logam atau pahit yang sebelumnya tidak ada;
- perubahan rasa disertai bau aneh;
- air berubah warna atau menjadi keruh;
- rasa aneh muncul setelah hujan atau perubahan kondisi lingkungan;
- hanya air dari satu keran yang mengalami perubahan;
- perubahan terjadi setelah air melewati tangki atau instalasi tertentu.
Dalam situasi seperti ini, jangan hanya mengandalkan pencicipan untuk menentukan apakah air aman diminum.
Jika diperlukan, lakukan pemeriksaan kualitas air di laboratorium atau gunakan layanan pengujian yang sesuai.
Apakah Filter Air Bisa Mengubah Rasa Air?
Bisa, tergantung jenis filter dan kandungan yang ingin dikurangi.
Beberapa teknologi pengolahan air memang digunakan untuk menangani masalah rasa dan bau tertentu. WHO menyebut aerasi, karbon aktif, ozonasi, serta beberapa metode pengolahan lainnya sebagai teknik yang dapat digunakan untuk menangani persoalan rasa dan bau tertentu.
Namun, memilih filter sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan rasa.
Jika masalah utama adalah kandungan besi, misalnya, pendekatan pengolahannya dapat berbeda dengan masalah air berbau atau kandungan garam yang tinggi.
Dengan mengetahui penyebabnya terlebih dahulu, pemilihan teknologi pengolahan air menjadi lebih tepat.
Jangan Langsung Menyalahkan Airnya
Ketika air tiba-tiba terasa berbeda, reaksi yang paling umum adalah mencari kesalahan pada sumber air.
Padahal, penyebabnya bisa berada di banyak titik: sumber air, mineral alami, proses pengolahan, pipa, tangki, keran, hingga wadah penyimpanan.
Karena itu, perubahan rasa sebaiknya dilihat sebagai sebuah petunjuk, bukan sebagai diagnosis.
Air yang memiliki rasa tidak biasa belum tentu berbahaya. Namun, air yang mengalami perubahan rasa secara mendadak juga tidak sebaiknya diabaikan begitu saja.
Pada akhirnya, kualitas air tidak cukup dinilai dari apa yang bisa dirasakan lidah. Pemeriksaan yang tepat tetap diperlukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terkandung di dalam air.
Kesimpulan
Penyebab air memiliki rasa bisa sangat beragam. Mineral alami, garam terlarut, besi, mangan, proses pengolahan, instalasi perpipaan, suhu, hingga tempat penyimpanan dapat memengaruhi karakter rasa air.
Karena itu, ketika air terasa pahit, asin, getir, atau seperti logam, jangan langsung menyimpulkan bahwa air tersebut aman ataupun berbahaya.
Perhatikan apakah perubahan rasa tersebut merupakan kondisi normal dari sumber air atau justru perubahan baru yang muncul secara tiba-tiba.
Jika perubahan disertai bau, warna, kekeruhan, atau kondisi lain yang tidak biasa, pemeriksaan kualitas air menjadi langkah yang lebih tepat.
Sebab, rasa hanya memberi petunjuk awal. Untuk mengetahui kualitas air secara lebih pasti, diperlukan pemeriksaan terhadap parameter yang relevan.
