Musim kemarau sering membuat orang mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya dianggap sepele. Salah satunya perubahan air di rumah.
Air yang biasanya jernih tiba-tiba terlihat kekuningan. Ada pula yang berubah menjadi kecokelatan, meninggalkan noda pada bak mandi, atau bahkan mengeluarkan bau yang tidak biasa.
Fenomena seperti ini cukup sering menjadi bahan pencarian di internet. Pertanyaannya hampir selalu sama: mengapa air berbau atau berwarna saat kemarau?
Jawabannya tidak selalu karena air tiba-tiba “kotor”. Pada sumber air tanah, musim kemarau dapat mengubah kondisi hidrologi dan kimia di sekitar sumur. Ketika muka air tanah berubah, debit menurun, atau air yang tersisa berinteraksi lebih lama dengan lapisan tanah dan batuan, karakteristik air yang keluar dari sumur juga dapat ikut berubah.
Kemarau Bisa Mengubah Kondisi Sumber Air
Saat musim hujan, air yang masuk ke dalam tanah relatif lebih banyak. Sebaliknya, ketika hujan berkurang dalam waktu lama, pengisian kembali air tanah atau recharge juga dapat menurun.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan air tanah menjadi lebih terbatas di sejumlah wilayah. Perubahan kondisi air tanah juga dapat memengaruhi berbagai parameter kualitas air.
Bukan berarti setiap air sumur pasti menjadi buruk ketika kemarau. Namun, perubahan lingkungan sumber air dapat membuat masalah yang sebelumnya tidak terlalu terlihat menjadi lebih mudah diamati.
Dalam kondisi tertentu, unsur seperti besi dan mangan dapat lebih banyak berada dalam bentuk terlarut. USGS menjelaskan bahwa kondisi air tanah dengan oksigen terlarut rendah atau kondisi reduktif dapat berkaitan dengan meningkatnya konsentrasi besi dan mangan.
Mengapa Air Bisa Berubah Menjadi Kuning atau Cokelat?
Salah satu penyebab yang cukup umum adalah besi.
Air yang mengandung besi terlarut dapat terlihat relatif jernih ketika baru keluar dari sumur. Namun setelah terkena udara, besi dapat mengalami oksidasi dan membentuk partikel yang membuat air tampak kekuningan, kecokelatan, atau kemerahan.
Endapan tersebut juga dapat menempel pada:
- bak mandi,
- keran,
- pakaian,
- lantai kamar mandi,
- dan dinding penampungan air.
USGS mencatat bahwa kadar besi tertentu dapat memberikan warna seperti karat serta meninggalkan noda merah atau oranye pada pakaian dan instalasi perpipaan.
Karena itu, air yang awalnya terlihat biasa saja dapat berubah warna setelah ditampung beberapa waktu.
Air Berwarna Hitam, Apakah Selalu Karena Kotoran?
Tidak selalu.
Warna yang lebih gelap dapat berkaitan dengan keberadaan mangan, bahan organik, sedimen, atau kombinasi beberapa faktor lainnya.
Mangan dalam kondisi tertentu dapat memberikan warna gelap sekaligus memengaruhi rasa dan aroma air. USGS juga menemukan hubungan antara kondisi air tanah yang rendah oksigen dengan meningkatnya kandungan mangan dan besi.
Artinya, perubahan warna tidak cukup untuk menentukan penyebabnya hanya dengan melihat secara kasatmata.
Air yang berwarna kuning belum tentu memiliki penyebab yang sama dengan air yang berwarna hitam. Begitu pula air yang berbau belum tentu disebabkan oleh satu jenis zat tertentu.
Lalu, Mengapa Air Bisa Berbau Saat Kemarau?
Bau pada air dapat berasal dari berbagai sumber.
Pada air tanah, kondisi kimia di dalam akuifer dapat memengaruhi senyawa yang terlarut. Selain itu, masalah juga dapat berasal dari lingkungan sumur, tangki penampungan, pipa, atau material organik yang masuk ke sumber air.
Jika air memiliki bau seperti telur busuk, misalnya, salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa adalah keberadaan senyawa sulfur tertentu. Namun, bau saja tidak dapat digunakan untuk memastikan jenis kontaminannya.
Inilah alasan mengapa mengandalkan penciuman untuk menilai keamanan air bukanlah cara yang cukup.
Mengapa Masalah Ini Lebih Terlihat Saat Kemarau?
Ada satu hal yang sering membuat masyarakat menghubungkan perubahan air dengan musim kemarau: perubahan kondisi sumber air biasanya berlangsung bersamaan dengan menurunnya ketersediaan air.
Ketika sumber air berkurang, karakteristik air yang keluar dari sumur dapat berubah. Pada sumur tertentu, perubahan muka air atau kondisi bawah permukaan juga dapat memengaruhi interaksi air dengan mineral di dalam tanah dan batuan.
USGS mencatat bahwa kandungan besi dan mangan dalam air tanah dipengaruhi oleh kondisi geokimia, termasuk kadar oksigen dan kondisi oksidasi-reduksi.
Karena itu, kemarau bukan selalu “penyebab langsung” air menjadi berwarna atau berbau. Lebih tepat dikatakan bahwa kemarau dapat mengubah kondisi lingkungan sumber air sehingga masalah kualitas air tertentu menjadi lebih mudah muncul atau terlihat.
Bukan Hanya Sumur, Toren dan Pipa Juga Perlu Diperiksa
Ketika air berubah warna, jangan langsung menyalahkan sumber air.
Masalah bisa muncul setelah air meninggalkan sumur.
Toren yang jarang dibersihkan dapat menampung endapan. Pipa lama juga dapat menyimpan sedimen atau mengalami korosi. Jika endapan tersebut ikut terbawa aliran, air yang keluar dari keran dapat terlihat berbeda meskipun kondisi sumber air tidak mengalami perubahan besar.
Karena itu, pemeriksaan sederhana bisa dimulai dari beberapa titik:
- Bandingkan air langsung dari sumber dengan air dari keran.
- Periksa kondisi toren atau tangki penyimpanan.
- Perhatikan apakah perubahan warna muncul setelah air didiamkan.
- Cek apakah noda hanya muncul pada satu keran atau seluruh titik air.
- Perhatikan apakah perubahan terjadi terus-menerus atau hanya sesekali.
Langkah tersebut memang belum dapat menentukan penyebab secara pasti, tetapi dapat membantu mempersempit sumber masalah.
Apakah Air yang Berwarna atau Berbau Aman Diminum?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya berdasarkan warna dan bau.
Air yang terlihat jernih belum tentu bebas dari kontaminan. Sebaliknya, perubahan warna atau bau tidak otomatis menunjukkan bahwa air pasti mengandung zat berbahaya dalam kadar tertentu.
WHO menekankan bahwa keamanan air minum perlu dinilai berdasarkan risiko dan parameter kualitas air, bukan sekadar penampilan fisiknya. Pedoman terbaru WHO juga menggunakan pendekatan pengelolaan risiko dari sumber air hingga konsumen.
Karena itu, jika air yang digunakan untuk minum tiba-tiba berubah warna, berbau, atau memiliki rasa yang tidak biasa, sebaiknya jangan langsung menganggapnya aman hanya karena setelah disaring air terlihat lebih jernih.
Apakah Filter Air Bisa Mengatasi Air Berbau dan Berwarna?
Bisa, tetapi tergantung penyebabnya.
Tidak ada satu jenis filter yang otomatis cocok untuk semua masalah air.
Misalnya, air dengan kandungan besi dan mangan membutuhkan pendekatan pengolahan yang berbeda dibandingkan air yang bermasalah karena sedimen. Sementara itu, masalah mikrobiologis juga membutuhkan metode pengolahan yang sesuai.
Karena itu, memilih filter hanya berdasarkan warna air dapat berujung pada penggunaan media yang tidak tepat.
Untuk kasus air sumur yang berubah saat kemarau, pemeriksaan kualitas air terlebih dahulu merupakan langkah yang lebih rasional. Parameter yang diperiksa dapat disesuaikan dengan kondisi setempat dan tujuan penggunaan air.
Tanda yang Sebaiknya Tidak Diabaikan
Perubahan kecil pada air memang belum tentu menunjukkan masalah serius. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Misalnya:
- air berubah warna secara tiba-tiba;
- bau muncul terus-menerus;
- air meninggalkan endapan atau noda yang semakin banyak;
- rasa air berubah;
- perubahan terjadi pada seluruh keran;
- kondisi air memburuk setelah sumber air berkurang;
- sumur berada dekat sumber pencemar potensial.
Jika air digunakan sebagai sumber air minum, pengujian laboratorium menjadi cara yang jauh lebih dapat diandalkan dibandingkan hanya melihat warna atau mencium baunya.
Kemarau Mengingatkan Kita bahwa Air Jernih Belum Tentu Sederhana
Fenomena air berbau atau berubah warna saat kemarau sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian: kualitas air dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sumbernya.
Ketika musim berganti, kondisi tanah, air permukaan, air tanah, sumur, pipa, dan tempat penyimpanan dapat ikut berubah.
Itulah sebabnya pertanyaan “kenapa air sumur saya berubah warna saat kemarau?” tidak memiliki satu jawaban untuk semua rumah.
Besi, mangan, sedimen, bahan organik, kondisi sumur, hingga instalasi penyimpanan dapat menjadi bagian dari persoalan.
Dan jika perubahan tersebut terjadi pada air yang digunakan untuk konsumsi, jangan berhenti pada pemeriksaan visual. Air yang tampak jernih belum otomatis berarti aman, sementara air yang berubah warna perlu dicari penyebabnya.
Dengan memahami perubahan sumber air sejak awal, pemilik rumah dapat menentukan apakah cukup melakukan perawatan sumur dan penampungan, membutuhkan pengolahan tertentu, atau perlu melakukan pengujian kualitas air secara lebih menyeluruh.
