Ada satu anggapan yang cukup umum ketika orang melihat air dari keran, sumur, atau tandon: kalau airnya bening dan tidak berbau, berarti aman digunakan.
Anggapan tersebut terdengar masuk akal. Secara kasatmata, air yang jernih memang terlihat lebih meyakinkan dibandingkan air yang keruh, kekuningan, atau memiliki endapan.
Namun, persoalan kualitas air tidak sesederhana apa yang terlihat oleh mata.
Air bisa tampak jernih tetapi tetap mengandung mikroorganisme atau zat kimia yang tidak terlihat secara kasatmata. Karena itu, kejernihan air tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan apakah air aman digunakan, terutama jika air tersebut akan diminum atau digunakan untuk memasak. WHO juga menekankan bahwa keamanan air berkaitan dengan bebasnya air dari kontaminasi mikrobiologis dan kontaminan kimia tertentu, bukan sekadar penampilan fisiknya.
Air jernih belum tentu air aman
Pertanyaan “air jernih apakah aman?” sering muncul setelah seseorang melihat kondisi air sumur atau air keran yang tampak sangat bening.
Masalahnya, sebagian kontaminan tidak memberikan perubahan warna maupun bau pada air.
Bakteri tertentu, misalnya, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Begitu pula sejumlah zat kimia seperti nitrat, arsenik, atau beberapa jenis logam berat yang dapat berada di dalam air tanpa membuat air berubah menjadi keruh.
Dalam dokumen Kementerian Kesehatan, pengujian kualitas air mencakup beberapa kelompok parameter, antara lain parameter fisika seperti warna, TDS dan kekeruhan, parameter kimia, serta parameter mikrobiologi seperti E. coli dan coliform. Artinya, kondisi fisik air hanyalah salah satu bagian dari penilaian kualitas air secara keseluruhan.
Jadi, air bening adalah tanda bahwa air terlihat jernih, bukan sertifikat bahwa air tersebut bebas kontaminasi.
Mengapa air yang tercemar bisa tetap terlihat jernih?
Ini yang sering membuat orang keliru.
Ketika membayangkan air tercemar, banyak orang membayangkan air berwarna hitam, berminyak, berbusa, atau mengeluarkan bau menyengat.
Padahal, pencemaran tidak selalu menghasilkan perubahan fisik yang mudah dikenali.
Ada setidaknya tiga kelompok masalah yang perlu diperhatikan.
1. Kontaminasi mikrobiologi
Bakteri, virus, dan parasit berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat diketahui hanya dengan melihat air.
Kontaminasi mikrobiologis dapat berasal dari berbagai sumber, seperti limbah domestik, kebocoran saluran pembuangan, septic tank yang bermasalah, permukaan tanah yang tercemar, hingga sumber air yang tidak terlindungi.
WHO menyebut kontaminasi mikrobiologis akibat tinja sebagai salah satu risiko terbesar terhadap keamanan air minum. Air yang terkontaminasi mikroorganisme dapat menjadi media penularan penyakit seperti diare, kolera, disentri, tifoid, dan polio.
Dengan kata lain, air yang terlihat seperti air mineral belum tentu memiliki keamanan mikrobiologis yang sama.
2. Kontaminasi kimia
Masalah lainnya adalah zat kimia.
Sebagian bahan kimia dapat masuk ke air tanah secara alami. Arsenik dan fluorida, misalnya, dapat ditemukan secara alami di lingkungan tertentu. Kontaminan lain dapat berasal dari aktivitas manusia, termasuk pertanian, industri, limbah domestik, atau material yang bersentuhan dengan air.
WHO juga mencatat bahwa bahan seperti timbal dapat meningkat akibat pelindian dari komponen sistem penyediaan air yang bersentuhan dengan air minum.
Kondisi seperti ini tidak selalu membuat air berubah warna.
3. Masalah yang terjadi di jalur distribusi
Air yang awalnya telah melalui proses pengolahan juga masih perlu diperhatikan ketika sampai di titik penggunaan.
Kondisi tangki penyimpanan, pipa, keran, dan instalasi rumah dapat memengaruhi kualitas air.
Misalnya, tandon yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat penumpukan sedimen dan berkembangnya lapisan biologis. Sementara itu, instalasi perpipaan yang bermasalah dapat menjadi salah satu sumber kontaminasi.
Karena itu, membicarakan keamanan air tidak cukup hanya dengan bertanya, “Airnya dari mana?”
Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana air disimpan dan melalui jalur apa sebelum digunakan?
Air jernih, tidak berbau, dan tidak berasa tetap perlu diperiksa?
Jawabannya bergantung pada tujuan penggunaannya dan sumber air.
Untuk keperluan seperti menyiram tanaman atau membersihkan halaman, standar yang dibutuhkan tentu berbeda dengan air yang akan diminum.
Sementara untuk konsumsi, keamanan air perlu dinilai dengan parameter yang sesuai. Pemeriksaan laboratorium menjadi cara yang jauh lebih dapat diandalkan dibandingkan hanya mengandalkan pengamatan visual.
Secara sederhana, ada tiga hal yang sering dijadikan indikator awal:
- Fisika: warna, bau, rasa, kekeruhan, dan karakteristik fisik lainnya.
- Kimia: pH, zat terlarut, mineral tertentu, logam, nitrat, dan parameter kimia lain sesuai kondisi sumber air.
- Mikrobiologi: terutama pemeriksaan mikroorganisme indikator seperti E. coli dan coliform.
Kementerian Kesehatan juga mencantumkan kelompok parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi dalam pengujian kualitas air.
Bagaimana dengan air sumur yang sangat bening?
Air sumur sering menjadi contoh paling menarik.
Ada sumur yang airnya terlihat sangat jernih sehingga pemilik rumah merasa tidak perlu melakukan pemeriksaan.
Padahal, air tanah dapat memiliki persoalan yang tidak selalu terlihat.
Kandungan mineral tertentu, senyawa kimia, atau kontaminasi mikrobiologi tidak harus membuat air berubah menjadi keruh.
Risikonya juga bisa berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya karena kondisi tanah, kedalaman sumur, aktivitas di sekitar sumber air, konstruksi sumur, serta kondisi sanitasi setempat.
Karena itu, air sumur yang jernih sebaiknya tidak langsung dianggap aman untuk diminum hanya berdasarkan penampilannya.
Apakah merebus air membuat semua masalah hilang?
Tidak selalu.
Merebus air merupakan salah satu metode penting untuk mengendalikan banyak mikroorganisme penyebab penyakit. Namun, proses pemanasan tidak otomatis menghilangkan semua jenis kontaminan kimia.
Jika masalah utama air adalah kontaminasi mikrobiologis, pengolahan dengan metode yang tepat dapat membantu mengurangi risiko.
Namun jika sumber masalahnya adalah zat kimia tertentu, pendekatan yang dibutuhkan bisa berbeda.
Inilah alasan mengapa memilih metode pengolahan air sebaiknya dimulai dari mengetahui masalah airnya, bukan sekadar membeli alat dengan klaim dapat menyaring semua jenis kontaminan.
Apakah filter air bisa membuat semua air jernih menjadi aman?
Ini juga menjadi salah satu kesalahpahaman yang sering muncul.
Filter air bukanlah satu teknologi dengan fungsi yang sama untuk semua kondisi.
Ada filter yang dirancang terutama untuk mengurangi sedimen dan partikel. Ada teknologi yang lebih ditujukan untuk mengurangi senyawa tertentu. Ada pula metode seperti ultraviolet yang digunakan untuk pengendalian mikroorganisme.
Artinya, kebutuhan filtrasi harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan air dan tujuan penggunaan.
Air yang awalnya keruh belum tentu cukup diatasi dengan satu jenis filter. Sebaliknya, air yang terlihat jernih juga belum tentu membutuhkan filter tertentu jika memang sudah memenuhi standar penggunaan.
Prinsip yang lebih masuk akal adalah:
uji air → identifikasi masalah → pilih teknologi pengolahan → lakukan perawatan → uji kembali bila diperlukan.
Bukan:
air terlihat jernih → langsung dianggap aman.
Tanda air yang perlu dicurigai meski terlihat jernih
Tidak semua masalah dapat dilihat, tetapi ada beberapa perubahan yang sebaiknya tidak diabaikan.
Misalnya:
- sumber air berada dekat septic tank atau saluran limbah;
- air tiba-tiba berubah rasa atau bau;
- kualitas air berubah setelah hujan;
- muncul endapan setelah air didiamkan;
- terjadi perubahan kualitas setelah instalasi perpipaan diperbaiki;
- tandon air sudah lama tidak dibersihkan;
- sumur berada di kawasan dengan aktivitas industri atau pertanian intensif;
- anggota keluarga mengalami gangguan pencernaan berulang dan terdapat dugaan masalah pada sumber air.
Kondisi tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa air tercemar. Namun, perubahan seperti itu dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jadi, apakah semua air jernih aman digunakan?
Tidak.
Air jernih memang lebih baik secara visual dibandingkan air yang keruh, tetapi kejernihan bukan ukuran lengkap untuk menentukan keamanan air.
Untuk penggunaan sehari-hari, kualitas air perlu dilihat berdasarkan sumbernya, kondisi penyimpanan, jalur distribusi, serta tujuan penggunaannya.
Terlebih untuk air minum, penilaian keamanan tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan “jernih atau tidak?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apakah air ini memenuhi parameter kualitas yang sesuai untuk penggunaan saya?”
Inilah perbedaan antara air yang terlihat bersih dan air yang benar-benar memenuhi persyaratan kualitas.
Pada akhirnya, mata manusia hanya dapat menilai sebagian kecil dari kondisi air. Sedangkan kontaminasi mikrobiologis dan kimia tertentu bisa berlangsung tanpa warna, tanpa bau, dan tanpa perubahan rasa yang mudah dikenali.
Jadi, ketika melihat air yang sangat jernih, jangan langsung panik—tetapi juga jangan langsung menganggapnya aman.
Jernih adalah kondisi yang terlihat. Aman adalah kondisi yang harus dibuktikan.
