JAKARTA – Fenomena El Niño 2026 semakin menjadi perhatian memasuki akhir Juli. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño saat ini berada pada kategori kuat dan berpotensi mencapai intensitas yang lebih tinggi dalam periode mendatang.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meluasnya musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. BMKG memperingatkan bahwa kombinasi El Niño dan musim kemarau dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta tekanan terhadap ketersediaan air.
Dalam pembaruan pada 30 Juli 2026, BMKG memprediksi El Niño akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Bahkan, puncak intensitasnya diperkirakan dapat melebihi kategori kuat. Potensi kekeringan juga dapat semakin meningkat apabila Indian Ocean Dipole (IOD) berkembang ke fase positif pada September hingga Desember 2026.
El Niño 2026 Makin Kuat di Tengah Musim Kemarau
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa hasil pemantauan pada akhir Juni menunjukkan indeks bulanan Niño 3.4 berada di angka +1,56. Angka tersebut telah melewati ambang kategori El Niño kuat yang berada di atas +1,5.
Penguatan El Niño menjadi perhatian karena fenomena tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Namun, BMKG menekankan bahwa dampak El Niño terhadap Indonesia tidak selalu seragam dan menjadi lebih terasa ketika fenomena tersebut berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Dengan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki periode kering, kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah daerah mengalami defisit air yang lebih besar dibandingkan kondisi normal.
BMKG Catat Kemarau Meluas di Indonesia
Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen dari total luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM masih mengalami musim hujan dan 113 ZOM berada pada wilayah dengan tipe satu musim.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan September. BMKG memperkirakan sekitar 48,84 persen wilayah daratan mengalami puncak kemarau pada Agustus, sedangkan 25,41 persen lainnya pada September.
Situasi tersebut membuat periode Agustus-September menjadi salah satu fase yang perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya air atau rentan terhadap kebakaran lahan.
Sejumlah Wilayah Mengalami Hari Tanpa Hujan Panjang
Indikasi kondisi kering juga terlihat dari durasi hari tanpa hujan di sejumlah wilayah. BMKG mencatat adanya wilayah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga panjang.
Salah satu catatan terpanjang terjadi di Pos Hujan Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan durasi mencapai 80 hari. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak musim kemarau sudah terasa di sejumlah lokasi meskipun distribusinya berbeda-beda antarwilayah.
Dalam pembaruan sebelumnya, BMKG juga mencatat 70 titik pengamatan mengalami HTH ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari, yang tersebar terutama di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Kemarau Diprediksi Lebih Kering dari Normal
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan diperkirakan menghadapi durasi musim kemarau yang lebih panjang.
Curah hujan kategori tinggi diperkirakan baru mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. Artinya, risiko kekeringan masih perlu diperhatikan dalam beberapa bulan ke depan, terutama selama periode puncak kemarau.
Ancaman Karhutla Ikut Meningkat
Selain persoalan ketersediaan air, kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BMKG menyebut risiko karhutla diperkirakan meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
Wilayah Sumatra dan Kalimantan menjadi perhatian utama. Beberapa provinsi yang mendapatkan perhatian khusus antara lain Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Papua Selatan.
Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi sebanyak 5.019 titik panas yang didominasi wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang mendorong penguatan mitigasi karhutla menjelang puncak kemarau.
BMKG Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca
Menghadapi potensi kekeringan dan karhutla, BMKG bersama sejumlah lembaga pemerintah memperkuat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan potensi pembentukan hujan sekaligus membantu menjaga ketersediaan air.
BMKG menyebut operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Aceh dan Palembang. Operasi juga berlangsung di Palangkaraya dan Pekanbaru untuk membantu mitigasi risiko karhutla.
Selain penanganan karhutla, OMC juga diarahkan untuk mendukung pengisian waduk dan danau yang memiliki peran penting bagi kebutuhan irigasi, air bersih, serta pembangkit listrik tenaga air.
Sektor Pertanian dan Ketersediaan Air Perlu Diantisipasi
Dampak El Niño dan kemarau tidak hanya berkaitan dengan cuaca sehari-hari. Kondisi defisit air dapat memengaruhi sektor pertanian, sumber daya air, energi, kesehatan, hingga ketahanan pangan.
Untuk sektor pertanian, BMKG mendorong penyesuaian jadwal tanam serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Pengelolaan distribusi air juga perlu mempertimbangkan fase pertumbuhan tanaman yang membutuhkan pasokan air lebih besar.
Sementara itu, pengelola sumber daya air dan energi perlu memperhitungkan ketersediaan air baku, volume waduk, serta kebutuhan pembangkit listrik tenaga air selama periode kemarau.
Masyarakat Diminta Waspada hingga Puncak Kemarau
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak musim kemarau pada Agustus-September. Pemantauan perkembangan cuaca dan iklim diperlukan agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat.
Masyarakat juga perlu memperhatikan penggunaan air selama periode kering serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan. Di wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan, informasi mengenai kondisi sumber air dan peringatan dini menjadi semakin penting.
BMKG juga mengingatkan bahwa dampak El Niño terhadap Indonesia perlu dilihat bersama dinamika musim. Meski fenomena El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027, dampak utamanya terhadap kekeringan di Indonesia lebih berkaitan dengan periode ketika El Niño bertepatan dengan musim kemarau.
El Niño Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027
Dengan prakiraan El Niño yang masih bertahan hingga awal kuartal pertama 2027, periode beberapa bulan ke depan menjadi fase penting bagi kesiapsiagaan Indonesia.
BMKG terus memperbarui informasi iklim dan mendorong pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat untuk menyesuaikan langkah mitigasi berdasarkan perkembangan terbaru.
Ancaman kekeringan bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kondisi yang sama. Namun, kombinasi El Niño kuat, musim kemarau, durasi hari tanpa hujan yang panjang, dan potensi IOD positif membuat kewaspadaan terhadap kekurangan air dan karhutla perlu ditingkatkan, khususnya menjelang puncak kemarau Agustus-September 2026.
Informasi mengenai perkembangan El Niño, peringatan dini kekeringan, serta prakiraan cuaca dan iklim dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG agar masyarakat mendapatkan pembaruan berdasarkan data terbaru.
