JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi kering yang masih dominan hingga awal Agustus 2026. Pengaruh El Niño kuat diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan, sehingga risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta angin kencang perlu menjadi perhatian.
Dalam prakiraan terbaru BMKG untuk periode 31 Juli hingga 6 Agustus 2026, kondisi cuaca Indonesia secara umum masih didominasi cerah berawan hingga hujan ringan. Pada saat yang sama, curah hujan kategori rendah diprediksi mencakup sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia pada Dasarian I Agustus.
BMKG menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan perkembangan El Niño yang masih kuat. Indeks Niño 3.4 dasarian tercatat +2,26, sedangkan Southern Oscillation Index (SOI) berada di angka -28,2. Kombinasi indikator tersebut menunjukkan kondisi El Niño kuat yang masih berpotensi menguat.
El Niño Masih Menekan Curah Hujan
El Niño yang kuat berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Dampaknya, kondisi kering diperkirakan masih lebih dominan dalam beberapa hari mendatang, terutama di wilayah yang sudah memasuki musim kemarau.
BMKG mencatat dampak musim kemarau mulai terlihat secara nyata. Pada periode 27–29 Juli 2026, kekeringan dilaporkan terjadi di Jawa Tengah. Pada periode yang sama, kejadian kebakaran hutan dan lahan juga teridentifikasi di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tanah, vegetasi, semak belukar, dan lahan gambut yang semakin kering lebih mudah terbakar. BMKG pun meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan.
1.729 Titik Panas Terdeteksi pada 29 Juli
Ancaman karhutla juga tercermin dari pemantauan titik panas. Berdasarkan citra satelit pada 29 Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 1.729 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Sementara itu, terdapat 117 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebagian besar titik tersebut terdeteksi di Papua dan Maluku sebanyak 85 titik, kemudian Kalimantan 25 titik, Sulawesi empat titik, serta Nusa Tenggara tiga titik.
BMKG menekankan bahwa titik panas tidak otomatis berarti kebakaran hutan dan lahan. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan apakah titik tersebut benar-benar merupakan kejadian kebakaran.
Meski demikian, tingginya jumlah titik panas di tengah kondisi yang semakin kering menunjukkan perlunya peningkatan pemantauan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi mudah terbakar.
Prakiraan Cuaca 31 Juli–3 Agustus 2026
Memasuki periode 31 Juli hingga 3 Agustus 2026, BMKG memperkirakan cuaca Indonesia secara umum berada pada kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.
Namun, hujan dengan intensitas sedang masih berpotensi meningkat secara lokal di sejumlah wilayah, yakni:
- Sumatra Utara
- Riau
- Kepulauan Riau
- Sumatera Selatan
- Jawa Barat
- Kalimantan Utara
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Selatan
- Papua Pegunungan
BMKG juga menetapkan kewaspadaan terhadap hujan lebat hingga sangat lebat di Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu.
Artinya, dominasi musim kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami cuaca kering tanpa hujan. Hujan tetap dapat muncul secara lokal akibat dinamika atmosfer yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Angin Kencang Juga Perlu Diwaspadai
Selain kekeringan dan karhutla, BMKG memperingatkan potensi angin kencang dalam beberapa hari ke depan.
Pada periode 31 Juli–3 Agustus, angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena angin kencang dapat meningkatkan risiko pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, serta gangguan aktivitas masyarakat.
BMKG juga mencatat peningkatan kecepatan angin berpotensi terjadi di sejumlah wilayah perairan, termasuk Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Samudra Hindia selatan Jawa hingga selatan Nusa Tenggara Timur, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafura.
4–6 Agustus, Kondisi Kering Masih Dominan
Memasuki 4–6 Agustus 2026, pola cuaca secara umum diperkirakan tidak banyak berubah. Kondisi cerah berawan hingga hujan ringan masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Hujan dengan intensitas sedang masih berpotensi terjadi secara lokal di Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.
Di sisi lain, potensi angin kencang masih perlu diwaspadai di Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sejumlah wilayah Papua.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat perlu memahami bahwa periode awal Agustus tidak sepenuhnya bebas dari hujan maupun cuaca ekstrem lokal. Namun secara keseluruhan, kondisi kering tetap menjadi pola yang lebih dominan.
Risiko Kekeringan Meningkat Saat Puncak Kemarau
Ancaman kekeringan menjadi semakin relevan karena Indonesia sedang memasuki periode puncak musim kemarau. BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau 2026 banyak terjadi pada Agustus.
Dalam pembaruan prediksi musim kemarau Juni 2026, BMKG memperkirakan sebanyak 369 Zona Musim atau 48,84 persen luas daratan Indonesia mengalami puncak kemarau pada Agustus. Kondisi ini membuat pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu perhatian utama.
Risiko kekeringan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air rumah tangga. Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada pertanian, perkebunan, peternakan, kualitas udara, hingga ketersediaan air untuk irigasi dan energi.
BMKG Minta Masyarakat Hemat Air dan Hindari Pembakaran
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air selama kondisi kemarau masih dominan. Langkah sederhana seperti mengurangi pemborosan air dapat membantu menjaga ketersediaan sumber daya air di tengah periode curah hujan yang rendah.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara pembakaran. Risiko penyebaran api dapat meningkat ketika vegetasi dan lahan berada dalam kondisi kering.
Jika menemukan indikasi titik api, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Waspadai Panas dan Dehidrasi
Kondisi kering juga dapat meningkatkan paparan panas, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. BMKG mengingatkan masyarakat untuk menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung seperti tabir surya ketika berada di bawah paparan matahari.
Langkah tersebut penting terutama bagi kelompok masyarakat yang bekerja di luar ruangan, mengingat kondisi kemarau masih diperkirakan berlangsung dan curah hujan rendah menjadi pola dominan hingga awal Agustus.
El Niño Kuat Bukan Berarti Hujan Hilang Total
BMKG menegaskan bahwa meskipun El Niño kuat mendukung kondisi yang lebih kering, hujan tetap dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di sebagian Sumatra dan Kalimantan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga berpotensi memengaruhi wilayah Indonesia bagian timur.
Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat dapat membentuk pola konvergensi dan konfluensi di sekitar Laut Filipina. Kondisi tersebut masih memungkinkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat secara lokal.
Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan prakiraan cuaca harian di wilayah masing-masing. Kondisi kemarau secara nasional tidak menutup kemungkinan terjadinya hujan lebat maupun angin kencang secara lokal.
Yang Perlu Diwaspadai dalam 3–4 Hari ke Depan
Berdasarkan prakiraan BMKG untuk periode akhir Juli hingga awal Agustus 2026, terdapat beberapa risiko yang perlu menjadi perhatian masyarakat:
- Kekeringan: kondisi kering masih dominan dan curah hujan rendah diprediksi mencakup sebagian besar wilayah Indonesia.
- Karhutla: kondisi lahan yang semakin kering dan kemunculan titik panas meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
- Angin kencang: sejumlah wilayah daratan dan perairan berpotensi mengalami peningkatan kecepatan angin.
- Hujan lokal: meskipun kemarau dominan, hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah.
- Cuaca panas dan dehidrasi: masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu menjaga asupan cairan dan mengurangi paparan matahari langsung.
BMKG Minta Masyarakat Terus Pantau Informasi Resmi
BMKG meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca yang terlihat di satu lokasi. Perubahan dinamika atmosfer dapat menyebabkan kondisi berbeda antardaerah, termasuk munculnya hujan lebat atau angin kencang secara lokal di tengah periode kemarau.
Informasi prakiraan dan peringatan dini terbaru dapat dipantau melalui laman resmi BMKG dan aplikasi InfoBMKG.
Dengan puncak musim kemarau yang berlangsung pada periode ini dan El Niño kuat yang masih berpengaruh, kewaspadaan terhadap kekeringan serta karhutla menjadi semakin penting. Dalam beberapa hari ke depan, masyarakat juga perlu mengantisipasi angin kencang dan tetap memperhatikan potensi hujan lokal.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan prakiraan BMKG tanggal 30 Juli 2026 untuk periode 31 Juli–6 Agustus 2026. Prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan dinamika atmosfer, sehingga pembaca disarankan mengikuti pembaruan resmi BMKG.
