CIKARANG PUSAT – Ratusan petani yang tergabung dalam kelompok Petani Bekasi Utara mendatangi Kompleks Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Senin (27/7), untuk mendesak pemerintah segera mengambil langkah darurat mengatasi krisis air irigasi yang menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian mengalami kekeringan.
Para petani menyampaikan bahwa terganggunya aliran irigasi di Saluran Sekunder (SS) BKG (Bendung Kedunggede) membuat pasokan air ke area persawahan di Desa Karangharja dan Desa Karangsegar, Kecamatan Pebayuran, tidak mengalir secara optimal. Dampaknya, sekitar 2.000 hektare sawah kini mengalami kekeringan dan berisiko mengalami gagal panen apabila kondisi tersebut terus berlanjut.
Menurut para petani, persoalan kekurangan air irigasi bukanlah masalah baru. Mereka menyebut gangguan distribusi air telah terjadi selama bertahun-tahun, namun hingga kini belum ada penyelesaian yang dinilai mampu mengatasi akar permasalahan.
Salah seorang orator aksi, Suparman, yang akrab disapa Kepus, mengatakan aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi agar pemerintah segera memenuhi kebutuhan air irigasi yang menjadi penopang utama aktivitas pertanian di wilayah tersebut.
“Kami datang bukan untuk mencari konflik, tetapi meminta hak kami sebagai petani,” ujar Kepus saat menyampaikan aspirasi di Kompleks Pemkab Bekasi.
Ia mengungkapkan, lahan pertanian milik warga telah mengalami kekeringan selama lebih dari tiga bulan. Kondisi itu membuat tanaman padi tidak memperoleh pasokan air yang cukup sehingga terancam mati sebelum masa panen.
“Sudah lebih dari tiga bulan sawah kami kekeringan. Tanaman terancam mati, sementara kami bergantung pada hasil panen untuk menghidupi keluarga,” katanya.
Selain meminta penanganan darurat terhadap krisis air, para petani juga mendesak Pemerintah Kabupaten Bekasi membuka ruang dialog dengan perwakilan petani untuk membahas solusi jangka pendek maupun jangka panjang.
Mereka berharap pemerintah segera melakukan langkah konkret, seperti perbaikan pintu air, normalisasi saluran irigasi, serta pembersihan sedimentasi dan penumpukan sampah di sepanjang Saluran Sekunder BKG. Upaya tersebut dinilai penting agar distribusi air ke lahan pertanian kembali lancar dan aktivitas bercocok tanam dapat berjalan normal.
Para petani berharap pemerintah segera merespons tuntutan tersebut mengingat musim tanam sedang berlangsung. Tanpa pasokan air yang memadai, kerugian petani diperkirakan akan semakin besar dan berpotensi memengaruhi produksi padi di wilayah Bekasi Utara.
