Kekeringan ekstrem belakangan semakin sering menjadi perhatian masyarakat. Pencarian mengenai sumber air yang menyusut, sumur yang mulai mengering, hingga distribusi air bersih meningkat ketika musim kemarau mulai terasa di berbagai daerah.
Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan cuaca panas. Kekeringan terjadi melalui rangkaian proses yang melibatkan curah hujan, durasi hari tanpa hujan, kondisi tanah, ketersediaan air permukaan, cadangan air tanah, hingga perubahan pola iklim.
Di Indonesia, persoalan ini kembali menjadi sorotan pada musim kemarau 2026. BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal dan sebagian wilayah mengalami musim kemarau lebih panjang dari biasanya.
Mengapa Kekeringan Ekstrem Bisa Terjadi di Banyak Daerah?
Kekeringan ekstrem biasanya tidak muncul karena satu penyebab. Ada kombinasi faktor alam dan kondisi lingkungan yang membuat suatu wilayah lebih cepat mengalami kekurangan air.
1. Curah Hujan Berkurang dalam Waktu Lama
Penyebab paling mudah terlihat adalah berkurangnya hujan. Ketika hujan jarang turun selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, cadangan air di sungai, waduk, embung, dan tanah perlahan menurun.
Masalahnya, kebutuhan air masyarakat tetap berjalan. Air tetap digunakan untuk minum, memasak, mandi, pertanian, peternakan, dan berbagai aktivitas ekonomi.
Ketika pemasukan air dari hujan jauh lebih kecil dibandingkan penggunaan, neraca air akhirnya mengalami tekanan.
2. Musim Kemarau Datang Lebih Awal atau Berlangsung Lebih Panjang
Kekeringan juga menjadi lebih serius ketika periode tanpa hujan berlangsung lebih lama daripada kondisi normal.
BMKG dalam prediksi musim kemarau 2026 menyebut sekitar 57,2 persen zona musim diprakirakan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal. Sebanyak 64,5 persen zona musim juga diprediksi mengalami akumulasi curah hujan kategori bawah normal selama periode kemarau.
Artinya, persoalan bukan hanya soal “tidak turun hujan”, tetapi juga berapa lama kondisi kering bertahan.
3. Pengaruh Fenomena El Nino
Fenomena iklim seperti El Nino dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Dalam kondisi tertentu, El Nino dapat membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami periode yang lebih kering.
BMKG pada 2026 memperingatkan potensi El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan produksi pangan, serta tekanan terhadap ketersediaan air.
Namun, El Nino bukan satu-satunya penjelasan. Kondisi geografis dan iklim lokal tetap menentukan seberapa besar dampaknya terhadap masing-masing daerah.
Mengapa Ada Daerah yang Lebih Cepat Kekeringan?
Pertanyaan ini sering muncul ketika masyarakat melihat satu wilayah mengalami krisis air, sementara daerah lain masih memiliki sumber air yang relatif cukup.
Perbedaannya dapat dipengaruhi oleh karakteristik tanah, topografi, keberadaan sungai dan waduk, kondisi daerah tangkapan air, penggunaan lahan, serta ketergantungan masyarakat terhadap sumber air tertentu.
Daerah yang hanya memiliki sedikit sumber air alternatif tentu lebih rentan ketika sumber utama mengalami penurunan debit.
Air Tanah Tidak Selalu Menjadi Cadangan Tanpa Batas
Salah satu anggapan yang sering muncul di masyarakat adalah air tanah akan selalu tersedia selama sumur masih bisa digunakan.
Padahal, air tanah merupakan bagian dari siklus hidrologi. Cadangannya dapat berkurang ketika pengambilan air berlangsung lebih cepat daripada proses pengisian kembali melalui infiltrasi.
Ketika hujan berkurang dan penggunaan air tanah tetap tinggi, sumur dangkal dapat menjadi salah satu sumber air yang lebih cepat terdampak.
Kekeringan Tidak Selalu Berarti Semua Wilayah Kehabisan Air
Istilah kekeringan sering dipahami secara sederhana sebagai kondisi ketika suatu daerah tidak memiliki air sama sekali. Padahal, kekeringan memiliki berbagai bentuk dan tingkat keparahan.
Ada kekeringan meteorologis yang berkaitan dengan rendahnya curah hujan, kekeringan hidrologis yang berhubungan dengan berkurangnya debit sungai atau cadangan air, serta kekeringan yang berdampak pada pertanian dan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, sebuah daerah dapat mengalami kekeringan meskipun masih terdapat sumber air. Persoalannya adalah apakah sumber tersebut cukup tersedia dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Mengapa Kekeringan Kini Terasa Lebih Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari?
Di era media sosial, informasi mengenai kekeringan menyebar jauh lebih cepat. Foto sumur mengering, video warga mengambil air dari sumber yang semakin jauh, hingga informasi distribusi air bersih dapat muncul dalam hitungan menit.
Hal ini ikut mengubah perilaku pencarian masyarakat. Ketika kondisi air mulai berubah, orang tidak hanya mencari informasi tentang cuaca, tetapi juga mengetik pertanyaan seperti “kenapa sumur cepat kering”, “cara menghemat air saat kemarau”, atau “di mana mendapatkan air bersih”.
Fenomena pencarian tersebut menunjukkan bahwa isu kekeringan tidak lagi sekadar menjadi topik lingkungan. Ia masuk ke dalam percakapan sehari-hari karena berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah tangga.
Dampak Kekeringan Bisa Lebih Besar daripada Sekadar Kekurangan Air
Kekeringan yang berlangsung lama dapat memberikan efek berantai.
Ketika air semakin sulit diperoleh, rumah tangga harus mengalokasikan lebih banyak waktu dan biaya untuk mendapatkan air. Sektor pertanian juga dapat mengalami tekanan karena kebutuhan irigasi meningkat sementara ketersediaan air menurun.
Kondisi kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BNPB sepanjang Juni dan Juli 2026 mencatat kekeringan menjadi salah satu bencana yang dominan di sejumlah wilayah saat musim kemarau berlangsung.
Di sejumlah daerah, dampaknya sudah terlihat dalam bentuk distribusi air bersih. BNPB, misalnya, melaporkan penyaluran air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan di sejumlah wilayah Jawa selama periode tersebut.
Apakah Kekeringan Ekstrem Akan Selalu Terjadi Setiap Tahun?
Tidak. Kekeringan memiliki variasi dari satu tahun ke tahun berikutnya. Ada tahun ketika curah hujan relatif tinggi, sementara pada tahun lain kondisi atmosfer dapat menyebabkan periode kering yang lebih kuat.
Namun, perubahan pola iklim dapat membuat pengelolaan risiko menjadi semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya menunggu hujan kembali turun, tetapi juga perlu memahami bagaimana cadangan air dikelola sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Mitigasi kekeringan sebenarnya dapat dimulai dari tingkat rumah tangga. Penggunaan air secara efisien, memperbaiki kebocoran, menjaga tempat penyimpanan air tetap bersih, serta menyiapkan cadangan air untuk kebutuhan penting merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Dalam jangka lebih panjang, pengelolaan daerah resapan, perlindungan sumber mata air, pemanenan air hujan, efisiensi irigasi, dan pengelolaan air tanah menjadi bagian penting dari upaya menghadapi periode kering.
Yang tidak kalah penting adalah membaca informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi. Dengan begitu, masyarakat dapat melakukan persiapan sebelum kondisi kekeringan berubah menjadi krisis air bersih.
Kekeringan Ekstrem Perlu Dipahami sebagai Masalah Ketersediaan Air
Kekeringan ekstrem di banyak daerah pada dasarnya merupakan hasil dari bertemunya periode hujan yang rendah, musim kemarau yang panjang, dinamika iklim, dan kemampuan suatu wilayah dalam menyimpan serta mengelola air.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa dua daerah yang sama-sama mengalami musim kemarau dapat memiliki tingkat dampak yang berbeda.
Bagi masyarakat, tanda-tanda seperti debit sumur yang menurun, mata air mengecil, sungai mulai surut, atau kebutuhan distribusi air bersih yang meningkat sebaiknya tidak dianggap sebagai persoalan sementara semata.
Semakin awal kondisi tersebut dikenali, semakin besar peluang masyarakat, pemerintah daerah, dan pengelola sumber daya air menyiapkan langkah antisipasi sebelum kekeringan berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Pada akhirnya, menghadapi kekeringan bukan hanya tentang menunggu hujan turun. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan air yang tersedia hari ini dapat dikelola secara bijak untuk menghadapi hari-hari ketika hujan belum juga datang.
