Banjir tidak hanya meninggalkan lumpur, sampah, dan kerusakan pada rumah. Bagi sebagian masyarakat yang menggunakan sumur sebagai sumber air, persoalan justru bisa berlanjut setelah air banjir surut.
Salah satu hal yang sering membuat penghuni rumah bertanya adalah air sumur berubah setelah banjir. Air yang sebelumnya jernih dapat menjadi keruh, berwarna kekuningan atau kecokelatan, berbau tidak sedap, bahkan terasa berbeda.
Kondisi tersebut kerap menjadi perhatian karena perubahan pada air sumur tidak selalu dapat dilihat hanya dari penampilannya. Air yang terlihat sudah kembali jernih belum tentu terbebas dari kontaminasi.
Lantas, mengapa air sumur dapat berubah setelah banjir?
Air banjir dapat masuk ke lingkungan sumur
Salah satu penyebab utama adalah masuknya air dari permukaan ke dalam area sekitar sumur.
Ketika banjir terjadi, air dapat membawa berbagai material dari lingkungan, mulai dari tanah, lumpur, sampah, limbah rumah tangga, hingga mikroorganisme. Jika konstruksi sumur tidak cukup terlindungi atau air banjir mencapai bagian sekitar sumur, material tersebut dapat meresap ke dalam tanah dan memengaruhi kualitas air tanah.
Risikonya semakin besar apabila bibir sumur rendah, penutup sumur tidak rapat, atau terdapat celah pada konstruksi sumur.
Karena itu, perubahan air setelah banjir sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah warna atau bau saja.
Mengapa air sumur menjadi keruh setelah banjir?
Air keruh biasanya berkaitan dengan meningkatnya jumlah partikel yang terbawa ke dalam air.
Lumpur dan sedimen yang masuk ke lingkungan sumur dapat membuat air tampak cokelat, kekuningan, atau abu-abu. Perubahan juga dapat terjadi akibat terganggunya kondisi tanah di sekitar sumur selama banjir.
Dalam beberapa kasus, air mungkin terlihat sangat keruh pada awalnya kemudian perlahan menjadi lebih jernih setelah didiamkan.
Namun, air yang kembali jernih tidak otomatis berarti sudah aman digunakan.
Partikel besar memang dapat mengendap, tetapi kontaminan terlarut dan mikroorganisme tidak selalu dapat diketahui melalui pengamatan visual.
Air sumur bisa berbau setelah banjir
Selain keruh, perubahan bau merupakan keluhan yang cukup umum.
Banjir dapat membawa bahan organik dan berbagai material ke lingkungan sekitar sumur. Ketika material tersebut bercampur dengan air atau mengalami proses penguraian, karakteristik bau air dapat berubah.
Air yang sebelumnya tidak berbau bisa menjadi berbau tanah, lumpur, busuk, atau memiliki aroma yang terasa tidak biasa.
Perubahan bau merupakan salah satu alasan untuk lebih berhati-hati. Sebaiknya air tidak langsung digunakan untuk minum atau memasak hanya karena warna air terlihat normal.
Risiko kontaminasi tidak selalu terlihat
Ini bagian yang sering terlewat ketika orang membahas kondisi air sumur setelah banjir.
Air yang tercemar tidak selalu menunjukkan perubahan warna atau bau. Kontaminasi mikrobiologis, misalnya, dapat terjadi tanpa membuat air terlihat berbeda secara kasatmata.
Air banjir juga berpotensi membawa mikroorganisme dari lingkungan yang tercemar. Jika air sumur digunakan untuk kebutuhan rumah tangga tanpa pengolahan yang sesuai, terdapat risiko paparan terhadap kontaminan tersebut.
Karena itu, perubahan fisik pada air sebaiknya dianggap sebagai tanda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, bukan sebagai satu-satunya indikator keamanan air.
Sumur yang dekat dengan sumber pencemar perlu lebih diperhatikan
Risiko kontaminasi dapat berbeda antara satu sumur dan sumur lainnya.
Sumur yang berada dekat dengan septic tank, saluran pembuangan, kandang hewan, tempat penumpukan sampah, atau area yang tergenang banjir dapat menghadapi risiko lebih besar ketika terjadi banjir.
Kondisi konstruksi juga berpengaruh.
Sumur dengan dinding yang tidak terlindungi dengan baik, bibir sumur rendah, atau penutup yang mudah dimasuki air dari luar lebih rentan mengalami perubahan kualitas.
Inilah sebabnya dua rumah yang berada di lingkungan sama bisa mengalami kondisi air sumur yang berbeda setelah banjir.
Apakah air sumur setelah banjir boleh langsung digunakan?
Sebaiknya jangan langsung digunakan untuk minum atau memasak, terutama apabila air mengalami perubahan warna, bau, rasa, atau terlihat tercemar.
Untuk kebutuhan nonkonsumsi pun, penggunaannya perlu mempertimbangkan tingkat kontaminasi dan kondisi sumur.
Langkah pertama adalah menghindari penggunaan air yang jelas-jelas tercemar dan melakukan penilaian terhadap kondisi sumur. Jika memungkinkan, kualitas air sebaiknya diperiksa melalui pengujian laboratorium, terutama ketika air akan digunakan sebagai sumber air minum.
Perebusan dapat membantu membunuh banyak mikroorganisme penyebab penyakit, tetapi tidak menghilangkan semua jenis kontaminan. Karena itu, merebus air bukan solusi universal untuk setiap masalah kualitas air setelah banjir.
Apa yang sebaiknya dilakukan setelah banjir?
Penanganan sumur perlu dilakukan dengan hati-hati.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Hentikan sementara penggunaan air sumur untuk konsumsi.
Terutama jika terjadi perubahan warna, bau, rasa, atau terdapat dugaan air banjir masuk ke sumur. - Periksa kondisi fisik sumur.
Perhatikan apakah bibir sumur rusak, penutup terbuka, dinding mengalami kerusakan, atau terdapat genangan di sekitar sumur. - Bersihkan lingkungan sekitar sumur.
Lumpur, sampah, dan material pencemar di sekitar sumur perlu disingkirkan agar tidak semakin memperbesar risiko masuknya kontaminan. - Lakukan pembersihan dan desinfeksi sesuai kondisi sumur.
Untuk sumur yang terkontaminasi banjir, proses pemulihan sebaiknya dilakukan dengan metode yang tepat. Jika tidak yakin, konsultasikan dengan petugas kesehatan lingkungan atau pihak berwenang setempat. - Uji kualitas air.
Pemeriksaan laboratorium dapat memberikan gambaran yang jauh lebih akurat dibandingkan sekadar melihat warna atau mencium bau air. - Gunakan sumber air alternatif sementara.
Untuk minum dan memasak, gunakan sumber air yang dinyatakan aman sampai kualitas air sumur dapat dipastikan.
Jangan terburu-buru memasang filter
Ketika melihat air sumur berubah setelah banjir, sebagian orang mungkin langsung mencari filter air.
Filter memang dapat menjadi bagian dari sistem pengolahan air, tetapi tidak semua filter dirancang untuk mengatasi semua jenis kontaminasi.
Filter untuk mengurangi kekeruhan, misalnya, memiliki fungsi berbeda dengan sistem yang ditujukan untuk mengatasi mikroorganisme atau zat terlarut tertentu.
Karena itu, menentukan jenis pengolahan sebaiknya dimulai dari mengetahui masalah airnya.
Jika masalahnya adalah kontaminasi mikrobiologis, pendekatan pengolahannya berbeda dengan air yang memiliki kandungan besi, mangan, atau zat terlarut lainnya.
Dengan kata lain, jangan memilih filter hanya berdasarkan warna air.
Kapan air sumur perlu diuji?
Pengujian semakin penting apabila sumur berada di lokasi yang terdampak banjir dan akan kembali digunakan sebagai sumber air rumah tangga.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah terdapat masalah mikrobiologis maupun parameter kimia tertentu yang tidak dapat diketahui hanya dengan melihat kondisi air.
Terlebih lagi, air sumur yang terlihat jernih setelah banjir belum tentu memiliki kualitas yang sama seperti sebelum banjir.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kontaminasi, penanganannya dapat disesuaikan dengan jenis masalah yang ditemukan.
Mengapa perubahan air setelah banjir tidak boleh dianggap sepele?
Di internet, pertanyaan seperti “kenapa air sumur keruh setelah banjir?” atau “air sumur bau setelah banjir apakah aman?” mudah ditemukan ketika musim hujan menyebabkan genangan di berbagai daerah.
Pertanyaan tersebut sebenarnya menunjukkan masalah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Banjir dapat surut dalam hitungan jam atau hari, tetapi dampaknya terhadap lingkungan air tanah bisa berlangsung lebih lama. Karena itu, berakhirnya genangan di halaman rumah tidak selalu berarti kondisi sumber air sudah kembali seperti semula.
Air sumur membutuhkan perhatian lebih karena perubahan kualitasnya tidak selalu dapat dikenali secara kasatmata.
Kesimpulan
Air sumur berubah setelah banjir dapat disebabkan oleh masuknya lumpur, sedimen, bahan organik, limbah, atau mikroorganisme dari lingkungan yang terdampak banjir.
Perubahan warna, bau, rasa, dan kekeruhan merupakan tanda bahwa kualitas air perlu diperhatikan. Namun, air yang tampak jernih pun belum tentu bebas dari kontaminasi.
Karena itu, jangan terburu-buru menggunakan kembali air sumur untuk minum dan memasak setelah banjir. Periksa kondisi sumur, lakukan penanganan yang sesuai, dan pertimbangkan pengujian kualitas air sebelum sumber tersebut kembali digunakan secara normal.
Banjir memang bisa surut dengan cepat. Namun, untuk memastikan air sumur kembali aman, yang dibutuhkan bukan sekadar menunggu air terlihat jernih, melainkan memastikan kualitasnya melalui penanganan dan pemeriksaan yang tepat.
