Musim kemarau yang berlangsung lebih lama dari biasanya kini semakin sering menjadi perhatian masyarakat. Fenomena kekeringan ekstrem bukan hanya menyebabkan pasokan air berkurang, tetapi juga berdampak langsung terhadap kualitas air minum yang digunakan sehari-hari.
Banyak orang menganggap selama air masih mengalir dari sumur atau jaringan distribusi, kualitasnya tetap aman untuk digunakan. Padahal, saat terjadi kekeringan berkepanjangan, kondisi fisik, kimia, hingga mikrobiologi air dapat mengalami perubahan yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Inilah sebabnya mengapa pembahasan mengenai hubungan antara kekeringan ekstrem dan kualitas air minum semakin banyak dicari masyarakat, terutama ketika perubahan iklim membuat musim kemarau menjadi semakin tidak menentu.
Mengapa Kekeringan Dapat Menurunkan Kualitas Air?
Kekeringan menyebabkan volume air di sungai, waduk, dan akuifer tanah berkurang secara signifikan. Saat jumlah air menyusut, konsentrasi berbagai zat yang sebelumnya larut dalam air menjadi lebih tinggi.
Akibatnya, kandungan mineral tertentu, logam, sedimen, maupun polutan dapat meningkat. Pada saat yang sama, kemampuan sumber air untuk mengencerkan pencemar menjadi jauh lebih rendah.
Selain itu, debit air yang kecil membuat aliran menjadi lebih lambat. Kondisi ini memungkinkan endapan, lumpur, dan berbagai bahan organik menumpuk sehingga memengaruhi kualitas air baku.
Dampak Kekeringan pada Air Sumur
Air sumur menjadi salah satu sumber air yang paling rentan terdampak kekeringan.
Ketika permukaan air tanah turun, pompa sumur akan mengambil air dari lapisan yang lebih dalam. Lapisan tersebut belum tentu memiliki karakteristik kualitas yang sama dengan sebelumnya.
Beberapa perubahan yang sering terjadi antara lain:
- Air menjadi lebih keruh.
- Warna air berubah menjadi kekuningan atau kecokelatan.
- Muncul bau tidak sedap.
- Kandungan zat besi dan mangan meningkat.
- Air terasa lebih asin di beberapa wilayah pesisir.
- Endapan lebih banyak setelah air didiamkan.
Perubahan tersebut merupakan tanda bahwa kualitas air perlu diperiksa sebelum digunakan sebagai air minum.
Risiko Kontaminasi Justru Meningkat
Banyak orang mengira kekeringan akan mengurangi pencemaran karena curah hujan menurun. Faktanya, kondisi sebaliknya justru dapat terjadi.
Saat volume air mengecil, limbah domestik, aktivitas pertanian, maupun pencemaran dari lingkungan sekitar menjadi lebih terkonsentrasi.
Jika sumur berada dekat septic tank, saluran limbah, atau area peternakan, risiko masuknya bakteri dan mikroorganisme ke dalam air tanah juga dapat meningkat, terutama apabila konstruksi sumur kurang baik.
Kualitas Air PDAM Juga Bisa Terpengaruh
Tidak hanya pengguna sumur, pelanggan jaringan air perpipaan juga dapat merasakan dampaknya.
Saat musim kemarau berkepanjangan, perusahaan penyedia air bersih harus mengolah air baku dengan kondisi yang lebih sulit. Kekeruhan, kandungan bahan organik, maupun perubahan kualitas air sungai dapat meningkat sehingga proses pengolahan membutuhkan penyesuaian.
Meski air yang didistribusikan tetap melalui proses pengolahan sesuai standar yang berlaku, perubahan karakteristik air baku dapat memengaruhi rasa, warna, maupun bau dalam kondisi tertentu.
Dampak Terhadap Kesehatan
Mengonsumsi air dengan kualitas yang menurun dalam jangka panjang dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan.
Beberapa dampak yang mungkin muncul meliputi:
- Gangguan saluran pencernaan akibat kontaminasi mikroorganisme.
- Iritasi kulit saat digunakan untuk mandi.
- Penumpukan mineral tertentu apabila kandungannya melebihi batas aman.
- Penurunan kualitas sanitasi rumah tangga karena keterbatasan air bersih.
Kelompok yang paling rentan adalah bayi, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem imun yang lemah.
Tanda-Tanda Air Minum Sudah Mengalami Penurunan Kualitas
Masyarakat perlu mengenali beberapa indikator sederhana sebelum menggunakan air sebagai air minum.
Perhatikan apabila air menunjukkan kondisi berikut:
- Berubah warna.
- Berbau menyengat.
- Rasanya tidak seperti biasanya.
- Banyak endapan.
- Air tampak keruh meski sudah didiamkan.
- Muncul lapisan minyak atau busa yang tidak wajar.
Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya air tidak langsung dikonsumsi tanpa proses pengolahan tambahan.
Cara Menjaga Kualitas Air Saat Kekeringan
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan agar kualitas air tetap terjaga selama musim kemarau.
1. Lindungi Sumber Air
Pastikan sumur memiliki bibir sumur yang baik, tertutup rapat, dan berada pada jarak aman dari septic tank maupun sumber pencemar lainnya.
2. Bersihkan Tangki Penyimpanan
Tandon air yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat berkembangnya lumut, sedimen, dan mikroorganisme.
Pembersihan secara berkala membantu menjaga kualitas air tetap baik.
3. Gunakan Filter Air Sesuai Kebutuhan
Filter air dapat membantu mengurangi sedimen, partikel halus, bau, maupun beberapa kontaminan tertentu. Namun, jenis media filtrasi harus disesuaikan dengan kondisi air yang digunakan.
4. Rebus Air Sebelum Diminum
Apabila kualitas mikrobiologi belum dapat dipastikan, merebus air hingga mendidih menjadi langkah sederhana untuk membantu mengurangi risiko penyakit akibat bakteri dan mikroorganisme.
5. Lakukan Pemeriksaan Air Secara Berkala
Pengujian laboratorium menjadi cara paling akurat untuk mengetahui apakah air masih memenuhi standar kualitas air minum.
Pemeriksaan berkala sangat disarankan terutama pada wilayah yang sering mengalami kekeringan panjang.
Perubahan Iklim Membuat Fenomena Ini Semakin Sering Terjadi
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi serta intensitas kekeringan di banyak wilayah. Dampaknya bukan hanya berkurangnya cadangan air, tetapi juga meningkatnya tantangan dalam menjaga kualitas air bersih.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya berfokus pada ketersediaan air. Kualitas air juga harus menjadi perhatian utama agar kebutuhan air minum yang aman tetap terpenuhi sepanjang tahun.
Kesimpulan
Kekeringan ekstrem tidak hanya menyebabkan berkurangnya jumlah air, tetapi juga dapat memicu penurunan kualitas air minum. Volume air yang menyusut membuat konsentrasi berbagai kontaminan meningkat, sementara sumber air menjadi lebih rentan terhadap pencemaran.
Mengenali tanda-tanda perubahan kualitas air, menjaga kebersihan sumber air, menggunakan sistem filtrasi yang tepat, serta melakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala merupakan langkah penting untuk memastikan air yang digunakan tetap aman. Di tengah meningkatnya risiko kekeringan akibat perubahan iklim, menjaga kualitas air menjadi bagian penting dari upaya melindungi kesehatan keluarga.
