Saat musim kemarau berlangsung lebih lama, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada satu persoalan utama: persediaan air yang semakin berkurang. Debit sumur menurun, aliran keran melemah, hingga sumber air di lingkungan mulai mengering menjadi keluhan yang sering muncul.
Namun, kekeringan tidak hanya berkaitan dengan jumlah air. Dalam banyak kondisi, berkurangnya ketersediaan air juga dapat memengaruhi kualitasnya.
Fenomena ini sering memunculkan berbagai pencarian di internet, seperti “apakah air sumur saat kemarau aman digunakan?”, “kenapa air berubah warna saat musim kering?”, atau “mengapa air sumur menjadi lebih keruh dan berbau?”. Pertanyaan tersebut muncul karena perubahan kondisi air kerap terlihat langsung di rumah, mulai dari warna, bau, rasa, hingga munculnya endapan.
Kekeringan dapat menyebabkan perubahan pada sumber air permukaan maupun air tanah. Ketika curah hujan berkurang dalam waktu lama, sungai, waduk, dan sumur dapat mengalami penurunan volume. Kondisi tersebut berpotensi membuat zat tertentu menjadi lebih terkonsentrasi atau mengubah karakteristik air.
Menurut penjelasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kekeringan dapat mengganggu ketersediaan air dan meningkatkan berbagai risiko yang berkaitan dengan kesehatan, sanitasi, serta akses terhadap air yang aman.
Mengapa Kekeringan Bisa Memengaruhi Kualitas Air?
Air di alam selalu mengalami perubahan. Kualitasnya dipengaruhi oleh kondisi tanah, curah hujan, aktivitas manusia, penggunaan lahan, serta jumlah air yang tersedia.
Saat musim hujan, air yang masuk ke sungai, danau, waduk, atau tanah relatif lebih banyak. Ketika musim kering berlangsung panjang, volume air dapat berkurang sehingga kemampuan sumber air untuk mengencerkan zat tertentu juga ikut menurun.
Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat menyebabkan kandungan mineral, garam, nutrien, atau zat pencemar menjadi lebih terkonsentrasi. Dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah karena karakter tanah, kedalaman sumber air, dan aktivitas di sekitar sumber air dapat berbeda.
Kekeringan hidrologis juga dapat menyebabkan aliran sungai melemah serta ketinggian air di waduk dan air tanah menurun.
Karena itu, air yang sebelumnya tampak normal dapat mengalami perubahan ketika musim kemarau berlangsung lama.
1. Konsentrasi Zat Terlarut Bisa Meningkat
Ketika volume air berkurang, sebagian zat yang terdapat di dalamnya dapat menjadi lebih terkonsentrasi. Kondisi ini dapat memengaruhi karakteristik air, termasuk rasa, bau, warna, atau jumlah endapan yang terlihat setelah air digunakan.
Pada air tanah, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan kandungan mineral alami yang berasal dari lapisan tanah dan batuan. Di beberapa wilayah, perubahan komposisi air dapat membuat air terasa lebih asin, meninggalkan kerak pada peralatan, atau menimbulkan noda pada perlengkapan rumah tangga.
Meski begitu, perubahan rasa atau warna tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya cara untuk menentukan keamanan air. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk mengetahui kandungan tertentu secara akurat.
2. Debit Sumur Menurun dan Pengambilan Air Meningkat
Saat sumber air permukaan berkurang, penggunaan air tanah sering meningkat. Rumah tangga, pertanian, maupun kegiatan lain dapat lebih banyak mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jika pengambilan air berlangsung tinggi sementara pengisian kembali air tanah berkurang, muka air tanah dapat turun. Akibatnya, sumur menjadi lebih sulit menghasilkan air atau debitnya semakin kecil.
Penurunan muka air tanah juga dapat mengubah pola pergerakan air di bawah permukaan. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat memengaruhi kualitas air yang masuk ke sumur. Penelitian yang dibahas U.S. Geological Survey (USGS) menunjukkan bahwa peningkatan pemompaan saat kekeringan dapat menarik air dangkal yang terpengaruh kontaminasi ke kedalaman yang digunakan oleh sebagian sumur.
Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap sumur. Kondisi geologi, kedalaman sumur, serta sumber pencemar di sekitar lokasi sangat menentukan.
3. Air Permukaan Lebih Rentan Mengalami Penurunan Kualitas
Sungai, danau, embung, dan waduk dapat mengalami penurunan volume ketika curah hujan rendah dalam waktu lama. Aliran yang lebih lambat juga dapat mengurangi proses pencampuran dan pengenceran alami.
Akibatnya, zat pencemar atau nutrien yang masuk ke sumber air dapat bertahan lebih lama atau memiliki konsentrasi lebih tinggi. Pada kondisi tertentu, suhu air yang meningkat juga dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem perairan.
Kondisi air yang lebih hangat dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme tertentu, termasuk alga, apabila tersedia nutrien dalam jumlah cukup. Perubahan ini dapat memengaruhi warna, bau, dan karakteristik air.
Dampak kekeringan terhadap kualitas air permukaan dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi daerah aliran sungai, aktivitas di sekitarnya, serta tingkat penurunan debit.
4. Risiko Kontaminasi Bisa Meningkat pada Sumber Air Tertentu
Kekeringan tidak secara otomatis membuat semua sumber air tercemar. Namun, kondisi kering dapat memperbesar kerentanan pada sumber air tertentu, terutama apabila terdapat masalah sanitasi, limbah, atau pencemaran di sekitarnya.
Sumur yang tidak terlindungi dengan baik dapat memiliki risiko lebih besar apabila berada dekat dengan septic tank, saluran limbah, kandang ternak, atau area penyimpanan bahan kimia.
Selain itu, berkurangnya jumlah air dapat membuat kemampuan pengenceran terhadap zat pencemar menjadi lebih rendah. Karena itu, perlindungan sumber air perlu menjadi perhatian sepanjang tahun, bukan hanya saat musim hujan.
WHO menjelaskan bahwa kontaminasi kimia pada air dapat berasal dari sumber alami maupun aktivitas manusia.
5. Air Bisa Berubah Warna, Bau, atau Rasa
Salah satu tanda yang paling sering membuat masyarakat mencari informasi adalah perubahan fisik pada air.
Beberapa perubahan yang dapat muncul saat musim kemarau antara lain:
- Air menjadi kekuningan atau kecokelatan.
- Muncul bau yang berbeda dari biasanya.
- Air meninggalkan noda pada keran atau peralatan.
- Terbentuk endapan setelah air didiamkan.
- Air terasa lebih asin atau memiliki rasa tidak biasa.
- Air tampak lebih keruh.
Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan mineral, sedimen, kondisi pipa, perubahan muka air tanah, atau faktor lain. Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan berdasarkan warna dan bau saja tidak cukup untuk menentukan apakah air aman digunakan.
Air yang tampak jernih juga belum tentu bebas dari kontaminan. Sebaliknya, air yang berubah warna belum tentu selalu mengandung zat berbahaya. Pengujian kualitas air diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
6. Kualitas Air yang Menurun Dapat Memengaruhi Kebutuhan Sehari-hari
Perubahan kualitas air dapat berdampak pada berbagai aktivitas rumah tangga.
Air dengan kandungan mineral tertentu dapat meninggalkan kerak pada pemanas air, keran, atau peralatan. Air yang mengandung banyak partikel dapat membuat tandon dan saluran lebih cepat kotor. Sementara itu, air yang memiliki bau atau warna tidak biasa dapat menurunkan kenyamanan saat digunakan untuk mandi dan mencuci.
Jika air digunakan untuk konsumsi, memasak, atau kebutuhan yang membutuhkan standar kualitas tertentu, pemeriksaan yang lebih menyeluruh menjadi penting.
Risiko kesehatan tidak hanya bergantung pada kondisi kekeringan, tetapi juga pada jenis dan jumlah kontaminan yang terdapat di dalam air.
Tanda Kualitas Air Perlu Diperiksa Saat Kemarau
Perubahan berikut dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut:
- Warna air berubah secara tiba-tiba dan berlangsung terus-menerus.
- Muncul bau menyengat atau bau yang sebelumnya tidak ada.
- Air terasa berbeda dari biasanya.
- Terdapat endapan dalam jumlah banyak.
- Debit sumur menurun drastis.
- Air meninggalkan noda atau kerak yang semakin sering.
- Muncul keluhan pada kulit setelah menggunakan air.
- Sumber air berada dekat dengan area yang berpotensi mencemari lingkungan.
Tanda-tanda tersebut bukan diagnosis terhadap jenis kontaminan tertentu. Pemeriksaan laboratorium tetap menjadi cara yang lebih dapat diandalkan untuk mengetahui kondisi air.
Cara Menjaga Kualitas Air Saat Musim Kemarau
Kekeringan memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya terhadap kebutuhan air rumah tangga dapat dikurangi melalui pengelolaan yang lebih baik.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Periksa kondisi sumber air secara berkala
Amati perubahan debit, warna, bau, dan adanya endapan. Catatan sederhana dapat membantu membandingkan kondisi air dari waktu ke waktu.
2. Jaga kebersihan sumur dan area sekitarnya
Pastikan area di sekitar sumur tidak menjadi tempat penumpukan sampah, limbah, atau bahan yang berpotensi mencemari air. Struktur sumur juga perlu diperiksa agar air permukaan yang kotor tidak mudah masuk.
3. Bersihkan tandon secara rutin
Tandon yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat penumpukan sedimen. Saat persediaan air terbatas, kebersihan tempat penyimpanan menjadi semakin penting.
4. Gunakan air sesuai kebutuhan
Menghemat air tidak hanya membantu menjaga persediaan, tetapi juga dapat mengurangi tekanan terhadap sumber air tanah. Perbaiki keran bocor dan gunakan air secara efisien.
5. Gunakan sistem penyaringan sesuai kondisi air
Filter air tidak memiliki fungsi yang sama untuk semua jenis masalah. Media penyaring perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan karakteristik air.
Filter yang efektif untuk mengurangi sedimen belum tentu dirancang untuk menangani mikroorganisme atau zat kimia tertentu. Karena itu, memilih sistem berdasarkan hasil uji akan lebih tepat dibanding hanya mengandalkan perubahan warna atau bau.
6. Lakukan uji laboratorium jika terjadi perubahan signifikan
Pengujian dapat membantu mengetahui parameter seperti tingkat keasaman, kekeruhan, kandungan mineral, atau kemungkinan adanya kontaminan tertentu.
Untuk air yang digunakan sebagai air minum, pemeriksaan berdasarkan standar yang berlaku menjadi langkah penting.
Apakah Air yang Direbus Selalu Aman Saat Kekeringan?
Merebus air dapat membantu mengurangi risiko dari banyak mikroorganisme penyebab penyakit apabila prosesnya dilakukan dengan benar. Namun, perebusan tidak selalu menghilangkan semua zat kimia, mineral, atau kontaminan terlarut.
Dalam beberapa kondisi, penguapan selama perebusan dapat membuat zat yang tidak menguap menjadi lebih terkonsentrasi.
Karena itu, apabila terdapat dugaan masalah kimia atau perubahan kualitas yang tidak biasa, merebus air saja mungkin tidak cukup. Sumber masalah perlu diketahui terlebih dahulu melalui pemeriksaan yang sesuai.
Kekeringan Bukan Hanya Soal Air yang Berkurang
Kekeringan sering terlihat melalui tanda yang mudah dikenali, seperti tanah kering, debit sumur menurun, atau waduk yang surut. Namun, dampaknya terhadap kualitas air dapat berlangsung lebih kompleks.
Berkurangnya volume air dapat mengubah konsentrasi zat terlarut, meningkatkan tekanan terhadap air tanah, serta memengaruhi kondisi sungai dan sumber air lainnya. Dampak tersebut dapat berbeda di setiap wilayah.
Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu memperhatikan apakah air masih tersedia, tetapi juga apakah kualitasnya tetap sesuai dengan kebutuhan.
Menjaga sumber air, menghemat penggunaan, merawat tandon, serta melakukan pemeriksaan saat terjadi perubahan menjadi langkah penting untuk menghadapi musim kering. Air yang masih mengalir belum tentu memiliki kualitas yang sama seperti sebelumnya.
Dengan pengelolaan yang tepat dan pemantauan secara berkala, risiko gangguan kualitas air selama kekeringan dapat lebih cepat dikenali sebelum memengaruhi kebutuhan rumah tangga.
