Ketika seseorang mengetik pertanyaan “negara dengan krisis air terparah” di mesin pencarian, biasanya yang muncul adalah daftar negara yang dianggap paling kekurangan air. Namun, persoalannya ternyata jauh lebih kompleks.
Krisis air tidak selalu berarti sebuah negara benar-benar kehabisan air. Ada wilayah yang memiliki sungai, danau, atau cadangan air tanah, tetapi masyarakatnya tetap kesulitan mendapatkan air yang aman dan tersedia setiap hari.
Inilah yang membuat isu air bersih semakin sering muncul dalam pencarian internet, pemberitaan, hingga percakapan di media sosial.
Data terbaru WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa pada 2024 sekitar 2,1 miliar orang di dunia masih belum memiliki akses terhadap layanan air minum yang dikelola secara aman. Di saat yang sama, sejumlah negara menghadapi tekanan air yang sangat tinggi karena kebutuhan manusia, pertanian, industri, serta perubahan iklim.
Apa yang Dimaksud dengan Krisis Air?
Krisis air terjadi ketika ketersediaan, akses, kualitas, atau pengelolaan air tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Karena itu, istilah “krisis air” tidak hanya berkaitan dengan kekeringan.
Sebuah negara bisa mengalami tekanan air karena:
- cadangan air tawar terbatas;
- penggunaan air terlalu tinggi;
- pertumbuhan penduduk;
- kebutuhan pertanian yang besar;
- aktivitas industri;
- pencemaran sumber air;
- infrastruktur distribusi yang buruk;
- perubahan pola hujan;
- kekeringan berkepanjangan;
- pengelolaan air yang tidak berkelanjutan.
UN-Water menegaskan bahwa kelangkaan air merupakan persoalan relatif. Tekanan dapat meningkat ketika permintaan bertambah atau jumlah maupun kualitas pasokan air menurun.
Artinya, negara yang memiliki banyak sumber air belum tentu terbebas dari krisis air.
Negara Mana yang Mengalami Tekanan Air Terparah?
Tidak ada satu daftar tunggal yang dapat digunakan untuk menentukan “negara dengan krisis air terparah”. Hal ini karena lembaga berbeda menggunakan indikator yang berbeda.
Salah satu rujukan yang banyak digunakan adalah Aqueduct Water Risk Atlas dari World Resources Institute (WRI).
Dalam pembaruan Aqueduct yang dipublikasikan WRI, sebanyak 25 negara menghadapi tingkat water stress yang sangat tinggi, yaitu menggunakan sedikitnya 80 persen pasokan air terbarukan yang tersedia setiap tahun.
WRI mencatat negara-negara dengan tingkat tekanan air tertinggi antara lain Bahrain, Siprus, Kuwait, Lebanon, Oman, dan Qatar. Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi salah satu wilayah paling rentan, dengan sekitar 83 persen penduduknya terpapar tekanan air ekstrem.
Namun, daftar tersebut sebaiknya tidak dibaca sebagai peringkat sederhana mengenai negara yang “kehabisan air”.
Water stress mengukur hubungan antara kebutuhan dan pasokan air. Jadi, sebuah negara dapat memiliki sistem teknologi dan infrastruktur yang mampu menyediakan air bagi penduduk meskipun sumber daya air alaminya sangat terbatas.
Mengapa Negara-Negara Timur Tengah Sangat Rentan?
Wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara memiliki kombinasi faktor yang membuat persoalan air menjadi sangat serius.
Curah hujan relatif rendah di banyak wilayah, sementara kebutuhan air terus meningkat.
Air dibutuhkan untuk konsumsi rumah tangga, pertanian, industri, energi, serta pembangunan kota.
Dalam kondisi seperti ini, kenaikan kebutuhan beberapa persen saja dapat memberikan tekanan besar terhadap sumber air yang tersedia.
WRI mencatat bahwa tekanan air ekstrem di kawasan tersebut terutama berkaitan dengan rendahnya pasokan yang harus berhadapan dengan kebutuhan domestik, pertanian, dan industri.
Negara Krisis Air Tidak Selalu Berarti Tidak Ada Air
Ini adalah salah satu hal yang sering membingungkan ketika isu krisis air menjadi pembahasan di internet.
Bayangkan sebuah wilayah memiliki air laut dalam jumlah sangat besar. Secara kasat mata, wilayah tersebut tidak terlihat kekurangan air.
Masalahnya, air laut bukan air tawar yang dapat langsung digunakan untuk minum.
Teknologi desalinasi dapat mengubah air laut menjadi air tawar, tetapi proses tersebut membutuhkan energi, infrastruktur, investasi, dan pengelolaan yang tidak sederhana.
Hal serupa terjadi pada air tanah.
Sebuah kota mungkin masih memiliki air di dalam sumur, tetapi jika pengambilan air tanah berlangsung lebih cepat daripada pengisian kembali secara alami, cadangan tersebut tetap dapat mengalami tekanan.
Karena itu, pembahasan krisis air seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa banyak air yang tersedia?”, tetapi juga “berapa banyak air yang aman, terjangkau, dan dapat digunakan secara berkelanjutan?”
Krisis Air Juga Terjadi di Negara yang Memiliki Sungai Besar
Salah satu kesalahpahaman lain adalah anggapan bahwa negara yang memiliki sungai besar otomatis aman dari krisis air.
Padahal, air permukaan dapat tercemar, distribusinya tidak merata, atau jumlahnya berubah drastis mengikuti musim.
Bahkan, banjir dan kekeringan dapat terjadi di wilayah yang sama.
Perubahan iklim memperumit situasi karena mengubah pola hujan, meningkatkan ketidakpastian ketersediaan air, serta dapat memperparah kekeringan maupun banjir. UNICEF mencatat bahwa perubahan pola cuaca dan kejadian ekstrem dapat mengganggu ketersediaan sekaligus kualitas air minum.
Dengan kata lain, masalah air bukan hanya tentang terlalu sedikit air.
Terlalu banyak air pada waktu dan tempat yang salah juga dapat menjadi masalah.
Negara Mana yang Paling Kekurangan Akses Air Minum Aman?
Jika indikator yang digunakan bukan water stress, tetapi akses terhadap air minum yang dikelola secara aman, gambarnya menjadi berbeda.
Menurut data WHO dan UNICEF, cakupan global layanan air minum yang dikelola secara aman meningkat dari 68 persen pada 2015 menjadi 74 persen pada 2024.
Namun, sekitar 2,1 miliar orang masih belum memiliki akses terhadap layanan tersebut. Sebanyak 106 juta orang bahkan masih mengambil air langsung dari sumber air permukaan seperti sungai dan danau.
Ini menunjukkan bahwa krisis air memiliki dua sisi berbeda.
Sisi pertama adalah ketersediaan air.
Sisi kedua adalah kemampuan masyarakat mendapatkan air yang aman.
Keduanya tidak selalu terjadi di negara yang sama dengan tingkat keparahan yang sama.
Mengapa Pertanian Menjadi Faktor Penting?
Ketika membicarakan krisis air, perhatian sering tertuju pada penggunaan air di rumah.
Padahal, pertanian merupakan pengguna air terbesar secara global.
UN-Water mencatat sekitar 72 persen pengambilan air global digunakan untuk pertanian, sedangkan penggunaan oleh sektor municipal dan industri masing-masing sekitar 16 persen dan 12 persen.
Karena itu, peningkatan kebutuhan pangan dapat ikut meningkatkan tekanan terhadap sumber air.
Masalah menjadi semakin rumit ketika pertanian dilakukan di wilayah yang memiliki curah hujan rendah dan sangat bergantung pada irigasi.
Perubahan Iklim Membuat Krisis Air Semakin Sulit Diprediksi
Dulu, pembahasan kekeringan sering dikaitkan dengan musim kemarau.
Kini, situasinya semakin kompleks.
Perubahan iklim dapat mengubah waktu turunnya hujan, intensitas hujan, durasi musim kering, serta frekuensi kejadian ekstrem.
Akibatnya, pengelola air tidak hanya menghadapi persoalan “berapa banyak air yang tersedia”, tetapi juga “kapan air tersebut tersedia”.
UN-Water menyebut perubahan iklim membuat kelangkaan air semakin buruk karena ketersediaan air menjadi lebih tidak dapat diprediksi.
Mengapa Krisis Air Sering Viral di Internet?
Topik air memiliki karakter yang unik dalam budaya internet.
Pengguna biasanya tidak mencari istilah teknis seperti “baseline water stress” atau “renewable freshwater withdrawal”.
Mereka lebih sering mengetik pertanyaan sederhana:
“Negara mana yang paling kekurangan air?”
“Negara mana yang akan kehabisan air?”
“Apakah dunia akan kehabisan air?”
“Kenapa negara tertentu kekurangan air?”
Pertanyaan semacam ini kemudian berkembang menjadi konten peta, video pendek, infografik, hingga daftar negara yang disebut sedang menghadapi krisis air.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa cara masyarakat memahami isu lingkungan kini sangat dipengaruhi pola pencarian internet.
Satu peta yang memperlihatkan wilayah berwarna merah dapat membuat persoalan yang kompleks terlihat sederhana.
Padahal, warna pada peta bisa merepresentasikan indikator yang berbeda-beda.
Karena itu, ketika menemukan daftar “negara paling krisis air” di media sosial, penting untuk memeriksa siapa yang membuat data tersebut, tahun pengukurannya, dan indikator apa yang digunakan.
Apakah Krisis Air Akan Semakin Parah?
Tekanan terhadap sumber air diperkirakan akan meningkat di banyak wilayah.
WRI memperkirakan permintaan air global dapat meningkat sekitar 20-25 persen hingga 2050. Dalam proyeksi tersebut, jumlah penduduk yang menghadapi tekanan air ekstrem juga dapat bertambah secara signifikan.
UN-Water juga menekankan bahwa pertumbuhan penduduk, pembangunan ekonomi, perubahan iklim, serta meningkatnya kebutuhan air menjadi faktor penting dalam membentuk risiko kelangkaan air.
Namun, masa depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah air yang tersedia.
Cara manusia menggunakan dan mengelola air juga sangat menentukan.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Krisis Air?
Mengatasi krisis air membutuhkan lebih dari sekadar menghemat air di rumah.
Beberapa langkah yang berperan antara lain:
- memperbaiki jaringan distribusi air;
- mengurangi kebocoran;
- meningkatkan efisiensi irigasi;
- melindungi daerah aliran sungai;
- menjaga cadangan air tanah;
- memperbaiki pengelolaan limbah;
- menggunakan kembali air yang telah diolah;
- meningkatkan efisiensi industri;
- mengembangkan teknologi pengolahan air;
- memperkuat tata kelola sumber daya air.
Pada tingkat rumah tangga, penghematan tetap penting. Namun, solusi jangka panjang membutuhkan pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh.
Krisis Air Bukan Sekadar Masalah Negara Gurun
Ketika orang mencari “negara dengan krisis air terparah”, bayangan yang muncul sering kali adalah gurun dan wilayah kering.
Padahal, persoalan air jauh lebih luas.
Krisis dapat muncul ketika permintaan terlalu besar, kualitas air menurun, infrastruktur tidak memadai, atau masyarakat tidak memiliki akses yang adil terhadap sumber air.
Itulah sebabnya isu air semakin relevan untuk diperhatikan, termasuk di negara yang selama ini dianggap memiliki sumber daya air melimpah.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan sekadar negara mana yang paling kekurangan air, melainkan bagaimana sebuah negara memastikan air tetap tersedia, aman, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakatnya.
Sebab, ketika air mulai sulit didapat, persoalannya tidak lagi hanya tentang lingkungan.
Air berkaitan langsung dengan kesehatan, pangan, ekonomi, energi, hingga kehidupan sehari-hari.
